Dipenjara! Itulah salah satu resiko yang harus dihadapi seorang aktivis Islam yang tengah memperjuangkan tegaknya syariah dalam bingkai khilafah. Masuk bui pun pernah dialami Reza Pankhurst. Meski dalam kondisi serba terkungkung di dalam jeruji besi, ia tetap istiqamah mengkaji dan berdakwah, sehingga ayah tirinya pun tergerak hatinya untuk masuk Islam.
Reza lahir pada tahun 1976 di Bristol, Inggris. Ia dibesarkan dalam rumah tangga sekuler. Ibunya yang keturunan Iran itu menikah lagi dengan pria Inggris non Muslim. Maka tak aneh bila masa kecilnya dihabiskan tanpa bimbingan agama.
Mereka hidup berpindah-pindah mengikuti tempat ayah tirinya bertugas termasuk ke Yordania dan Kuwait. Ketika berusia 15 tahun, Reza pun memilih Islam sebagai identitas agamanya; semata-mata karena penduduk setempat beragama Islam. “Saat itu saya tidak tahu apa ini (beragama, red) benar-benar berarti,” ujarnya kepada Media Umat.
Merasa cukup dewasa, ketika keluarganya pindah ke Mesir, Reza lebih memilih meneruskan kuliah di kampung halamannya, Inggris. Ia pun merasa senang dengan gaya hidup baratnya. Serta bangga bisa kuliah di salah satu universitas kenamaan di London.
Namun baru saja masuk kuliah, ia bertemu dengan aktivis Hizbut Tahrir yang juga kuliah di kampus yang sama. Aktivis tersebut begitu semangat mengajak siapa saja untuk berdiskusi tentang Islam. Reza pun terlibat dalam diskusi untuk membuktikan apakah Islam itu merupakan kebenaran yang dapat dibuktikan secara objektif ataukah sekadar keyakinan individual dan opini belaka.
“Melalui diskusi-diskusi itu saya menjadi yakin akan kebenaran Islam dan benar-benar memeluk Islam pada usia 18 tahun!” ujarnya setelah keberadaan Allah SWT dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan terakhir-Nya dibuktikan secara intelektual.
Ia pun menegaskan. “Setelah beberapa kali diskusi, saya menyadari bahwa Islam adalah kebenaran yang tidak dapat disangkal dan karena itu saya merasa terdorong untuk mulai mengkaji secara komprehensif,” ujarnya. Ia pun meninggalkan gaya hidup baratnya dan mengikatkan diri pada halal-haram.
Di samping itu, selain sibuk kuliah ia pun aktif berdiskusi di lingkungan kampusnya. “Di universitas saya menghabiskan waktu dengan orang yang berbeda, termasuk semua jenis Muslim, baik dari kelompok-kelompok lain seperti Ikhwanul Muslimin dan Salafi atau Muslim lainnya yang tidak mengikuti organisasi keislaman manapun,” ujarnya.
Meskipun ada kebaikan dalam gerakan lain, ia melihat HT fokus pada isu kunci untuk mengembalikan kehidupan Islam kaffah dalam bingkai Khilafah, yang merupakan kewajiban atas umat diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. “Oleh karena itu saya bergabung dengan HT untuk berkontribusi dalam dakwah ini demi kebaikan kehidupan sekarang dan mendatang,” ujarnya.
DIPENJARA
Setamat kuliah dan memperoleh gelar sarjana, ia pun pindah ke Mesir mengikuti orang tuanya. Setelah berpengalaman bekerja di tiga perusahaan konsultan IT, ia pun membuka konsultan IT sendiri. Tujuannya agar lebih mudah lagi membagi waktunya dengan dakwah.
Benar saja, dakwahnya semakin kencang dan membuat diktator saat itu, Husni Mubarok, naik pitam. Pada April 2002, ketika menyerukan tegaknya syariah dan khilafah ia ditangkap dan disiksa. Ia pun dijatuhi hukuman penjara. Ia merupakan salah satu dari 25 aktivis HT yang ditangkap dan dibui saat itu termasuk dua orang lainnya dari Inggris dan Palestina.
“Ini merupakan ujian yang lebih berat dirasakan keluarga dibanding kami sendiri, karena mereka harus menanggung tuduhan miring di luar penjara sana,” ujarnya menanggapi cemoohan orang-orang yang termakan fitnah propaganda diktator Mesir.
Namun Reza tetap sabar dan istiqamah. Ia merasakan berkah Allah SWT semakin berlimpah ketika dalam penjara. Karena ternyata ia bisa lebih memperdalam ajaran Islam dan belajar bahasa Arab.
Keluarganya pun secara berkala menjenguknya, sehingga ia pun dapat mendakwahi ayah tirinya secara rutin, kesempatan yang sulit didapatnya ketika sebelum masuk penjara. Kebahagiaannya bertambah, tatkala ayahnya menyatakan diri masuk Islam dan ibunya kembali memperdalam Islam dan membaca salawat.
Pertolongan Allah SWT pun datang, sehingga banyak pihak yang menginginkan dirinya dibebaskan, karena aktivitas yang dilakukannya murni dakwah dan intelektual. Bahkan kelompok hak asasi manusia Amnesty International, menyatakan dirinya sebagai narapidana hati nurani.
“Sesuatu yang menegaskan bahwa kami ditangkap dan dipenjara murni untuk keyakinan intelektual kami dan posisi yang dianggap sebagai ancaman bagi kediktatoran Mesir,” ujarnya. Akhirnya, setelah menjalani hukuman selama empat tahun, ia pun dibebaskan.
Namun, Mesir tidak lagi kondusif bagi dakwah dan pekerjaannya. Ia pun kembali ke Inggris meneruskan kuliah dan mengajar tentu dengan tetap berdakwah.
“Meskipun media Inggris telah berusaha untuk membuat kampanye melawan saya dan juga pemerintah Inggris memberi tekanan pada perguruan tinggi tempat saya mengajar tapi Alhamdulillah saya telah berhasil melanjutkan studi dan berdakwah sampai sekarang,” pungkasnya
Joko Prasetyo